Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Sejumlah Bandara Ditutup Sementara

Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Sejumlah Bandara Ditutup Sementara

Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Sejumlah Bandara Ditutup Sementara

JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak signifikan terhadap operasional penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Sebaran abu vulkanik yang memasuki ruang udara membuat beberapa bandara harus ditutup sementara demi menjaga keselamatan penerbangan.

Gunung Anak Krakatau diketahui mengalami episode erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas gunung tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.

Sejumlah Bandara Terdampak Abu Vulkanik

Sebaran abu vulkanik menjadi salah satu faktor utama yang mengganggu operasional penerbangan. Kondisi tersebut membuat sejumlah bandara di sekitar wilayah terdampak harus menghentikan operasional untuk sementara.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan terus melakukan pemantauan bersama operator bandara, maskapai penerbangan, AirNav Indonesia, serta BMKG.

Pada Minggu (6/9), beberapa bandara yang terdampak antara lain Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, Budiarto Curug, Pondok Cabe, dan Husein Sastranegara. Penutupan dilakukan berdasarkan perkembangan sebaran abu vulkanik dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan.

Pada perkembangan terbaru, laporan menyebutkan bahwa sejumlah bandara masih mengalami penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik. Kondisi operasional dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti hasil pemantauan ruang udara.

Ratusan Penerbangan Mengalami Gangguan

Dampak erupsi juga dirasakan oleh para penumpang. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebanyak 764 penerbangan tercatat terdampak hingga Minggu (6/9). Dampak tersebut mencakup pembatalan, keterlambatan, hingga pengalihan pendaratan ke bandara lain.

Sementara itu, data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada Minggu pagi mencatat sedikitnya 373 penerbangan terdampak akibat penutupan sejumlah bandara. Jumlah tersebut terus berubah seiring perkembangan kondisi abu vulkanik dan operasional bandara.

Gangguan tidak hanya terjadi pada penerbangan domestik. Sejumlah rute internasional dari dan menuju Jakarta juga mengalami pembatalan, penundaan, maupun penjadwalan ulang. Rute yang terdampak antara lain Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur.

Bandara Soekarno-Hatta Sempat Ditutup

Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi salah satu fasilitas penerbangan yang paling terdampak. Penutupan sementara dilakukan setelah hasil pengujian menunjukkan adanya sebaran abu vulkanik di ruang udara sekitar bandara.

Kementerian Perhubungan kemudian memperpanjang penutupan operasional berdasarkan perkembangan terbaru dan NOTAM yang diterbitkan untuk menjamin keselamatan penerbangan.

Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena dapat mengganggu sistem dan mesin pesawat. Oleh sebab itu, penerbangan dapat ditunda, dialihkan, atau dibatalkan ketika kondisi ruang udara dinilai tidak aman.

BMKG Terbitkan Peringatan untuk Penerbangan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga meningkatkan pemantauan terhadap pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Untuk mendukung keselamatan penerbangan, BMKG telah menerbitkan sejumlah SIGMET (Significant Meteorological Information) sebagai peringatan dini mengenai kondisi cuaca dan fenomena atmosfer yang dapat membahayakan penerbangan. Hingga 6 September, sebanyak 18 SIGMET telah diterbitkan.

Penumpang Diminta Memantau Status Penerbangan

Dengan kondisi yang masih dinamis, calon penumpang diimbau untuk tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan yang tercantum sebelumnya. Perubahan jadwal, keterlambatan, pengalihan rute, maupun pembatalan dapat terjadi sesuai perkembangan kondisi ruang udara.

Penumpang disarankan memantau informasi resmi dari maskapai, pengelola bandara, dan otoritas penerbangan sebelum menuju bandara.

Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan penerbangan masih melakukan pemantauan secara intensif. Keselamatan penumpang dan awak pesawat tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah penerbangan dapat dilaksanakan.

Catatan: Kondisi operasional bandara dan penerbangan dapat berubah dengan cepat seiring pergerakan abu vulkanik dan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi terbaru sebaiknya selalu dikonfirmasi melalui kanal resmi bandara, maskapai, dan Kementerian Perhubungan.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *